Kamis, 14 April 2016

TATA CARA PERKAWINAN HINDU

TATA CARA PERKAWINAN HINDU (ETNIS BALI)

Dihimpun oleh : Dr. Guli Mudiarcana
Wakil Ketua PHDI OKU- Sumatera Selatan 




Dalam setiap pelaksanaan upacara perkawinan  Hindu,  tidak mengabaikan adat yang telah ada dalam masyarakat, karena umat Hindu selain berpedoman pada Kitab Weda, juga berpedoman pada Śmrti dan  hukum Hindu yang berdasar- kan pada kebiasaan yang telah dilakukan secara turun temurun disuatu tempatyang disebut Acara.  

Dengan melakukan upacara yang dilandasi  kitab suci Weda dan mengikuti tata cara adat yang telah berlaku turun temurun, maka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia ini (jagaditha) dan kebahagiaan yang abadi (Moksa). 

Sistem perkawinan yang umum dilaksankan oleh umat Hindu etnis Bali adalah dengan cara :
A.    Memadik/Meminang/Melamar
B.     Merangkat/ Ngerorod


A.    TATACARA PERKAWINAN MEMADIK/ MEMINANG

1.      MENCARI HARI BAIK/ MEDEWASA AYU

Mencari hari baik (dewasa) biasanya dilakukan oleh pihak pengantin pria, dengan cara minta petunjuk kepada seorang Sulinggih atau seseorang yang sudah biasa memberikan dewasa (nibakang padewasaan). Adapun dewasa yang diminta biasanya berurutan sesuai dengan acara-acara dalam pelaksanaan upacara perkawinan, antara lain: dewasa pangenten (pemberitahuan), dewasa mererasan (meminang/mapadik), dewasa penjemputan calon pengantin wanita dan dewasa pawiwahan

2.       PEMBERITAHUAN


Pada hari ini orang tua calon pengantin pria datang ke rumah calon pengantin wanita bertemu dengan orang tuanya untuk bermusyawarah mengenai tujuan dari kedua calon pengantin serta meminta persetujuan kepada orang tua calon pengantin wanita tentang hari baik (padewasan sesuai dengan tahapan acara perkawinan), seperti  mengumumkan kepada keluarga besar di masing-masing kedua keluarga calon pengantin dan mengumpulkan keluarga besarnya untuk bisa menyampaikan tentang tujuan keluarga calon pengantin serta memohon bantuannya baik bersifat phisik maupun material. 

3.       MEMINANG/MEMADIK

Pada hari ini keluarga besar dari pihak calon pengantin pria datang ke rumah calon pengatin wanita untuk meminang. Pada saat melamar, kadang-kadang masing-masing keluarga calon pengantin mengungkap atau memaparkan silsilah keluarga. Pada saat melamar pihak keluarga atau wakil keluarga dari calon pengantin laki-laki biasanya mempersiapkan wakil keluarga yang akan menyampaikan silsilah keluarga, jika pihak keluarga pengantin wanita menanyakan tentang silsilah keluarga calon pengantin laki-laki. Mengungkap silsilah keluarga berguna untuk menghindari adanya hubungan sedarah antara calon pengantin laki-laki dan calon pengantin wanita, sehingga apabila hal itu terjadi pernikahan tersebut dapat dicegah sebelum dilangsungkannya upacara pernikahan. 

Acara memadik menggunakan upakara. Adapun upakara yang dibawa pada waktu memadik (meminang), antara lain:
a.       Pejati, sebagai upakara pesaksi untuk dihaturkan di pemerajan calon pengantin perempuan
b.      Canang pangraos, ditambah dengan segehan putih kuning asoroh.
c.       Pagemelan (rarapan) atau saserahan.

Jenis dan jumlah saserahan ini tergantung pada kesiapan, keseriusan, dan ketulusan keluarga calon pengantin laki-laki. Seserahan dapat berupa berbagai macam kue, buah-buahan,  Pakaian sembahyang (pasaluk), dan alat sembahyang.

4.      UPACARA NGEKEB

Acara ini bertujuan untuk mempersiap- kan calon pengantin wanita dari kehidup- an remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Dengan cara : Pada sore hari (sehari sebelum acara boyongan/ penjemputan penganten wanita), seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan.  Sesudah acara mandi dan keramas selesai, dilanjutkan  upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk kamar calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari  kamar sampai calon suaminya  menjemput. Pada saat acara penjemputan, seluruh tubuh pengantin wanita mulai dari ujung kaki sampai kepala ditutupi  selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.

5.      PENJEMPUTAN CALON PENGANTIN WANITA

Apabila calon pengantin wanita tidak diboyong pada saat memadik, maka acara berikutnya adalah penjemputan calon pengantin wanita oleh calon pengantin pria. Pada hari ini calon pengantin pria diikuti oleh anggota keluarga beserta unsur-unsur prajuru seperti ketua adat, dan sesepuh datang ke rumah keluarga calon pengantin wanita untuk menjemput calon pengantin wanita. Pada hari ini umumnya pihak calon pengantin pria membawa upakara berupa:
a.       Upakara mamerasan berupa: (1) Pejati asoroh, (2) Canang burat mangi lengawangi, (3) Segehan putih kuning asoroh, dan (4) Canang Pangerawos
b.      Sarana sebagai Penukar Air Susu dan alas rare (aled rare) berupa: (1) Basan buat, (2) Kain saparadeg, (3) Gelang, kalung, pupuk, dan (4) Handuk.
c.       Upakara Pengungkab Lawang (jika dilakukan) berupa: (1) Pejati dan suci alit, (2) Peras pengambean, (3) Caru ayam brumbun asoroh, (4) Bayekawonan , (5) Prayascita, (6) Pangulapan, (7) Segehan panca warna, (8) Segehan seliwah atanding, dan (9) Segehan agung.

Pengungkab lawang merupakan acara untuk mempertemukan pertama kali calon pengantin pria dengan calon pengantin wanita. Ngungkab lawang dilakukan pada upacara perkawinan tingkat utama (Meminang/ memadik). 

Tujuan dari acara ngungkab lawang adalah untuk menghormati keluarga calon pengantin wanita oleh keluarga calon pengantin pria sehingga hubungan kedua calon pengantin akan semakin harmonis, selaras dan serasi. 
Hal ini sesuai dengan sloka dalam kitab suci sebagai berikut:
Yatra nāryāstu pūjyante ramante tatra devatāh, yatraitāstu na pūjyante sarvās tatrā phalah kriyāh

artinya
Di mana wanita dihormati, di sanalah para dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, maka tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala”.

Ngetok lawang diawali dengan  gending Bali/ syair weda  oleh calon pengantin pria dari luar misalnya  sbb :


SYAIR / KIDUNG   NGUNGKAB LAWANG

                
Aku penganten pria, Engkau penganten wanita,
Aku kidung.
Dan engkau Syair,
Aku surga,
Dan Engkau bumi,
Kita akan tinggal disini bersama,
menjadi orang tua bagi anak-anak.
(Atharwaweda XIV.2.71)


Dibalas oleh calon pengantin wanita dari dalam rumah. Sbb:


Akulah bendera,
Akulah pemimpin,
Aku memiliki kepasihan yang unggul,
kekasihku bekerjasama denganku,
dan mengikuti kehendakku.
(RigWeda.X.159.2)

Kemudian calon pengantin wanita dituntun  oleh orang tuanya keluar rumah membuka pintu,  kedua calon penganten saling  mendekat,  Kira-kira berjarak 3 meter, ke duanya saling lempar sebundel daun betel berisi  jeruk purut didalamnya,   yang di-ikat  dengan benang putih. Daun betel  mempunyai kekuatan untuk tolak bala  dari gangguan buruk. Dengan saling melempar daun betel satu sama lain, membuktikan bahwa mereka benar-benar manusia sejati, bukan setan atau orang lain yang menyerupai / menganggap dirinya  sebagaipengantin laki-laki atau perempuan.  (daun betel dan jeruk dapat diganti daun sirih dan buah pinang)

Setelah itu orang tua mempelai wanita membimbing tangan kanan calon mempelai wanita serta mengambil tangan kanan calon mempelai pria, dan kedua tangan pananmempelai saling digenggamkan dengan doa sebagai berikut :


DOA MENYERAHKAN CALON MEMPELAI WANITA oleh ORANG TUA MEMPELAI WANITA


Om suddhah puta yosito yajniya ima.
Brahmanam hastesu pra prthak sadayami   ( Atharwaweda XI.I.27)

Om sumangalir iyam vadhur
Imam sameta pasyata
Saubhagyam asyai dattvaya
Athastam vi paretana   ( Rgweda X.85.33)                                                   

Artinya :

Atas Restu Hyang Widdhi. Kami berikan gadis yang murni, yang berbudi luhur dan yang suci ini kepada Orang Bijak yang berpengetahuan tinggi.
Hyang Widdhi, Penganten Wanita ini sangat beruntung.  Wahai penganten Pria yang lembut datanglah dan pandanglah dia. Berkatilah dia dengan keberuntungan dan berangkatlah kerumahmu.

DIJAWAB OLEH CALON MEMPELAI PRIA SBB :

Mameyam astu posya,
Mahyam tvadad brhaspatih,
Maya patya  prajavati,
 sam jiva saradah satam
 (atharvaveda xiv.1.52)

Artinya :
Engkau  kekasihku, yang dianugrahkan Hyang Widdhi kepadaku, aku akan mendukung dan melindungimu. Semoga engkau hidup berbahagia bersama-ku dan anak keturunan kita sepanjang masa”.

Kemudian  kedua  mempelai mengkuti prosesi mebiyakala dan prayascita oleh Pinandita. Dilanjutkan dengan  sumpah perkawinan, Kedua mempelai saling ber hadapan  muka dan kedua tangan mem- pelai  pria menggenggam kedua tangan mempelai wanita.    

èSumpah Perkawinanç
SMARA STAVA
 (dibaca oleh penghulu nikah)


Om pranamya ta sang hyang smaram,
Prabodham asta kamas te, 
Saha smara samara devi,  
 Misrosadhi suksma jnanam

Om stutis tribyandvana purve, 
 Mama kayo ’gneyasanam, 
 daksine janma yauvanam, 
 Dharmavata nairrtitah

Pascime ca, yauvana ca,  
strimado vayavyam, 
 uttare maro rathas ca, 
 airsanyam tu bandhah sthitah.

Ity ete smara puja ca, 
nara suranugrahas, 
 tirupam suruvam viryam,
prasiddhottama yauvanam.

Om om sang hyang smara deva puja ya namah svaha

UNTUK  PENGANTIN PRIA UCAPKAN ( RigWeda X.85.36)

WAHAI MEMPELAI WANITA: (Sebut Namanya). DI HADAPAN HYANG WIDHI DAN PARA SAKSI,  SAYA GENGGAM TANGANMU BAGI KEMAKMURAN. SEMOGA ENGKAU DAPAT MENJADI PENDAMPING HIDUP SAYA,  SEBAGAI ISTRI,  SAMPAI AKHIR HAYAT.

UNTUK PENGANTIN WANITA UCAPKAN (Atharwaweda XIV.2.63)
DIHADAPAN HYANG WIDHI DAN PARA SAKSI SAYA BERDOA SEMOGA ENGKAU; SUAMI SAYA: (Sebut Namanya) SEMOGA BERUSIA PANJANG DAN DAPAT HIDUP BERSAMA SAYA DENGAN  PENUH SETIA SAMPAI AKHIR HAYAT

KEMUDIAN PENGHULU MEMBACAKAN MANTRA BERIKUT :

Samrajni svasure bhava,   
samrajni svasrvam bhava, 
 nanandari samrajni bhava, 
samrajni adhi devrsu.                                                                                                                           (Rgveda x.85.46)

Yantri rad yantri asi yamani,   
 dhruva- asi dharitri.
(Yajurveda XIV.22)
Virasup devakama syona,
sam no bhava dvipade,
Sam catuspade.   
 ( Rgveda X.85.43) 
                                                    
Agne sardha mahate saubhagaya, 
tava dyumnani-uttamani santu  
(Rgweda V.28.3)

Anvarabhetham anusam rabhetam, 
atam lokam srad-dadhanah sacante 
 (Atharwaweda VI.122.3)

Hasamudau mahasa modamanau  
(Atharwaweda XIV.2.43)

 Artinya:

Wahai mempelai wanita, jadilah nyonya rumah tangga yang sesungguhnya, dampingilah (dengan baik) ayah ibu mertuamu, dampingilah (dengan baik) saudara saudari iparmu.

Wahai mempelai wanita, jadilah pengawas keluarga yang cemerlang, tegakkanlah aturan keluarga, dan jadilah penopang keluarga.

Wahai mempelai wanita, lahirkanlah keturunan yang cerdas, gagah, dan berani, Bersembahyanglah selalu kepada  Hyang Widdhi, jadilah insan yang ramah dan menyenangkan kepada semua orang, dan peliharalah dengan baik hewan  peliharaan ( harta benda)  keluarga”.

Wahai orang yang mulia (mempelai pria), berusahalah dengan keras untuk kemakmuran yang besar, semoga ke - masyuran dan rejekimu menjadi unggul

Wahai pasangan suami isteri, tekunlah bekerja dan tetaplah berkarya, hanya orang-orang yang bersungguh-sungguh berhasil di dunia ini.

Wahai pasangan suami isteri , bersenang hatilah dengan kegiatan usahamu dan jalanilah hidup dengan riang gembira

Kemudian dilanjutkan dengan penanda-tanganan surat-surat nikah oleh kedua mempelai dan saksi-saksi. Setelah surat-surat nikah selesai ditandatangani, acara selanjutnya adalah Nasehat Perkawinan yang diberikan oleh : Ketua Adat, PHDI, dan Keluarga kedua mempelai.
Setelah nasehat perkawinan selesai, dilanjutkan dengan doa Syukur bahwa acara pernikahan dapat terlaksana dengan baik. Dimohonkan kepada semua hadirin mengucapkan doa sebagai berikut :                        


DOA BERSAMA NIKAH
(dipimpin oleh penghulu/Juru Nikah)


Om ihena vindra sam nuda cakravakeva dampati. (Atharwaweda XIV. 2.64)

Om sam jaspatyam suyamam astu devah (Rgveda X. 85. 23)

Om asthuri no garhapatyani santu (Rgveda VI. 15. 19)

Om ihaiva stam ma vi yaustam, 
visvam ayur vyasnutam,   
 kridantau putrair naptrbhih,    
 modamanau sve grhe (Rgveda X. 85. 42)

Om Abhi vardhatam payasa,
Abhi rastrena vardhatam,
Rayya sahasra varcasa,
Imau stam anupaksitau.(Atharwaweda VI.78.2)


Artinya   :

Hyang Widdhi, Persatukanlah kedua mempelai ini bagaikan angsa cakravakewa  yang tidak pernah berpisah dengan pasangannya.

Hyang Widdhi, Semoga kehidupan pernikahan ini tenteram dan bahagia.
Hyang Widdhi, Semoga hubungan suami-istri ini tidak pernah putus dan dapat berlangsung selamanya.
Semoga pasangan suami-istri ini tetap erat dan tak pernah terpisahkan, mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, tinggal di rumah dengan hati gembira, dan bersama bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu”

Hyang Widdhi, semoga pasangan suami istri ini menjadi makmur,  bersama dengan kemajuan dan kemakmuran nasional, semoga mereka dikaruniai rejeki  yang besar dan tidak habis-habisnya dan tumbuh selamanya.

Setelah acara seremonial nikah selesai,  Acara  dilanjutkan  di Pemerajan   untuk melakukan persembahyangan memohon doa restu dari Sang Hyang Guru dan para leluhur pihak pengantin wanita. Selesai sembahyang dilanjutkan dengan sembah sungkem kepada kedua orang tua calon pengantin wanita untuk mohon doa restu. Sembahyang di pemerajan merupakan mohon doa restu  secara niskala kepada leluhur, sedangkan  secara sakala adalah mohon doa restu dari kedua orang tua.

A.    URUT-URUTAN CARA MERANGKAT/ NGEROROD

Pernikahan secara Ngerorod/Merangkat, seluruh ritual dan administrasi Nikahnya dilakukan dipihak mempelai Pria. Adapun urut-urutannya sbb :

DIRUMAH MEMPELAI PRIA

Sesampai di depan pintu gerbang rumah calon pengantin pria. Kedua mempelai diberikan segehan putih kuning, sebagai sarana penetralisir kekuatan yang bersifat negatif, karena  kedua calon pengantin secara spiritual adalah dalam kekuasaan kama (diliputi nafsu).  Adapun doa/ syair yang dibacakan ( baik secara Memadik maupun Ngerorod)   sebagai berikut :

DOA  PENYAMBUTAN  MEMPELAI WANITA 
OLEH  KELUARGA MEMPELAI  PRIA 
DI RUMAH MEMPELAI  PRIA

Tetap sadar, sebagai wanita yang pintar dan waspada,  Menikmati hidup yang penuh selama seratus tahun.    Masukilah rumah ini  sebagai ratu yang  ideal, Semoga Hyang Widdhi menganugrahi engkau usia panjang                                                                                        (Atharwa Weda XIV.2.75)

Kemudian kedua mempelai diantar ke depan dapur untuk melaksanakan penyucian kecil, yaitu diperciki tirta pabayekaonan, maprayascita dan terakhirngayab upakara peras pengambean dan dapetan. Maksud penyucian ini adalah penyucian pertama dari sebel kandelan pengantin karena menempuh cara ngerorod/merangkat.

6.      UPACARA PERKAWINAN (WIWAHA SAMKARA) DIRUMAH PENGANTIN PRIA

a.      Upacara makala-kalaan/sarira samkara

Upacara makala-kalaan bertujuan untuk membentengi kehidupan perkawinan dari gangguan Bhutakala. Upacara ini dituju-kan kepada bhūtakala, semacam pemberi-   tahuan kepada para bhutakala bahwa kedua mempelai  telah secara sah terikat dalam perkawinan dan jangan meng-ganggu kehidupan perkawinan mereka.
Upacara makala-kalaan juga disebut upacara bhūta saksi atau pertiwi saksi. 
Selain itu tujuan dari upacara makala-kalaan adalah untuk menghilangkan dan sekaligus  menyucikan kedua pengantin dari segala mala atau  menyucikan sukla dan swanita.

Dalam pelaksanaan upacara makala-kala an digunakan beberapa uparengga. Uparengga yang dipergunakan pada upacara makala-kalaan memiliki fungsi sebagai bahasa isyarat dan symbol   yang mengandung nilai-nilai filsafat/tattwa yang sangat tinggi dan dalam. Adapun uparengga yang dipergunakan adalah:
1.      Sanggah Surya /Api suci
2.      Kalabang Kala Nareswari (Kala Badeg),
3.      Tikeh dadakan (tikeh kecil),
4.      Benang putih,
5.      Tegen-tegenan,
6.      Suhun-suhunan (sarana junjungan),
7.      Sapu lidi tiga katih ,
8.      Sambuk (serabut) kupakan,
9.      Kulkul  berisi berem
10.  Tetimpung

Dalam rangkaian upacara makala-kalaan ada sarana yang dipergunakan yaitutetimpug yang dibuat dari tiga buah potong bambu yang masing-masing ada ruasnya, yaitu  lima ruas atau tujuh ruas.

Ketiga potong bambu ini diikat jadi satu kemudian dibakar di atas tungku bata yang dibuat pada saat upacara makala-kalaan. Makna yang terkandung  adalah secara niskala  memanggil para bhūta kala bahwa upacara segera dimulai. 

Kedua pengantin  menghadapi upakara dengan posisi duduk.  Pengantin wanita berada di sebelah kiri pengantin pria, kemudian kedua penganten natab banten bayakawonan,  dan  maprayascita sebagai pembersihan. Selesai natab biyakaonan dan prayascita  kedua pengantin menuju ke tempat mategen-tegenan

b.      Metegen-tegenan dan suun-suunan

Penganten pria memikul tegen-tegenan. Pengantin wanita menjunjung suhun-suhunan, sambil membawa sapu lidi tiga biji,  keduanya berjalan mengelilingisanggah surya ( bisa juga Api suci/Agni horta) ke arah purwa daksina (arah jarum jam). Posisi penganten pria  di depan dan  penganten wanita dibelakang kedua sabuk saling diikatkan kuat-kuat,. Pada tujuh langkah pertama (Saptapadi ), Kedua Pengantin berjalan tujuh langkah bersama untuk menandai awal perjalanan mereka melalui kehidupan bersama.  Setiap langkah merupakan sumpah perkawinan:

Tujuh langkah bersama
(SAPTAPADI)
Langkah :

1.      Hyang Widdhi kami suami isteri akan  saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

2.      Hyang Widdhi kami suami-isteri akan selalu  setia dan saling percaya satu sama lain.

3.      Hyang Widdhi, kami suami isteri akan saling berbagi dalam suka maupun duka dan saling mendukung dalam  suka dan duka.

4.      Hyang Widdhi kami suami-isteri akan merawat dan mendidik anak-anak kami dengan nilai-nilai Dharma , selalu hormat kepada orang tua, ayah-ibu mertua, saudaraa saudara ipar dan kerabat.

5.      Hyang Widdhi kami suami-isteri akan mengikuti prinsip-prinsip Dharma dan  melaksanakan kewajiban sebagai umat Hindu.

6.      Hyang Widdhi kami suami-isteri akan selalu memeilhara ikatan pernikahan ini dengan sungguh-sungguh, memelihara persahabatan dengan sahabat-sahabat kami, menghormati para  guru,  para dwijati dan para pemimpin.

7.      Hyang Widdhi, kami suami-isteri akan selalu menumbuhkan apresiasi terhadap Ilmu pengetahuan, nilai-nilai pengorbanan dan pelayanan.

Diteruskan dengan  berkeliling sebanyak 7 kali. Pada setiap putaran, kedua  mem- pelai  menendang serabut kelapa belah tiga (kala sepetan) yang di dalam- nya berisi telor, dan diikat dengan benang tridhatu. Sebagai tekad bahwa kedua mempelai secara bersama-sama  siap menyingkirkan segala cobaan yang  dihadapi dalam kehidupan rumah tangganya kelak.  Berkeliling  sambil bersama sama mengucapkan doa sbb :

DOA  MENGELILINGI  SANGGAH SURYA / API SUCI 
 Penganten Pria : Bhs Sansekerta 
Penganten Wanita : Bhs Indonesia 


1.      Om Samanjantu waswe dewah,                                                                                
      sam apo hrdayani nau (Rgweda. X.85.47)
Semoga para dewa mempersatukan hati kami berdua

2.      Om sam jaspatyam suyamam astu dewah (RgWeda X.85.23)
Semoga  Hyang Widdhi  memberi kebahagiaan dan ketentraman pada kehidupan pernikahan kami.

3.      Om prajam pustim bhukim asmasu dhattam (Rgweda VIII.59.7)
Semoga Hyang Widdhi menganugrahkan anak cucu dan rejeki yang melimpah  kepada kami.

4.      Om Sunrtawantah subhaga,                                                                                                         irawanto hasamudah (Atharwaweda VII.60.6)
Semoga Hyang Widdhi menganugrahi kami kemakmuran, kegembiraan dan memiliki rejeki  yang melimpah.

5.      Om Yatra suhardah sukrto madanti, wihaya rogam tanwah swayah  (Atharwaweda VI.120.3)                                                      
Semoga kami bisa  membuat rumah-rumah kami bagaikan sorga, dan orang-orang berpikiran mulia, saleh dan sehat bertempat tinggal dirumah kami dengan ring gembira.

6.      Om swasti matra-uta  pitre no astu, swasti gobhyo jagate purusebhyah (atharwaweda I.31.4)
Semoga ada kesejahteraan untuk orang tua kami, semoga semua sapi betina dan seluruh umat manausia berbahagia.

7.      Om payasca rasas ca annam ca, Annadyam srtah ca satyam ca
Istam ca purtam ca,
Praja ca pasawasi ca (Atharwaweda XII.5.10)
Semoga terdapat susu, sari buah, makanan, beras , ketertiban,  kebenaran, persembahan, perbuatan-perbuatan yang murah hati, anak-cucu dan kemakmuran dirumah tangga kami .

Setelah makala-kalaan serabut kelapa tersebut ditaruh di bawah tempat tidur pengantin.

c.       Medagang-dagangan.

Pada saat madagang-dagangan penganten wanita duduk di atas serabut kelapa, mengadakan tawar menawar hingga terjadi transaksi antara pengantin pria dan pengantin wanita yang ditandai dengan penyerahan barang dagangan serta pem- bayarannya. Akhir dari medagang-dagang-an adalah merobek tikeh dadakanyang dipegang oleh pengantin wanita dengan kedua tangannya dan pengantin pria mengambil keris kemudian merobek tikeh dadakan tersebut yang diawali dengan menancapkan keris ke tikeh dadakan.  dan dilanjutkan dengan mengambil tiga sarana kesuburan yaitu keladi, kunyit, dan andong, yang kemudian dibawa oleh kedua pengantin ke belakang sanggah kemulan untuk ditanam. Kemudian  memutuskan benang yang kedua ujungnya diikatkan pada dua cabang pohon dapdap. Selesai memutus- kan benang kedua penganten kemudian mandi untuk membersihkan diri.

d.      Mandi/ Angelus Wimoha

Mandi untuk membersihkan diri ini disebut ”angelus wimoha’, yang memiliki tujuan pembersihan secara lahiriah,  dan  nyomya  kekuatan asuri sampad yang masih ada dalam diri kedua mempelai  menjadi kekuatan Daiwi sampad atau nyomya kala bhūta nareswari  menjadi Sang Hyang Smarajaya dan Smara Ratih.

Sehabis mandi kedua mempelai berganti pakaian, memakai pakaian kebesaran dan berhias untuk melakukan upacara dewa
saksi di sanggah pemerajan.  

e.       Upacara Widhi Widhana

Upacara widhi widhana/majaya-jaya dilakukan setelah selesai melaksanakan upacara makala-kalaan (Setelah mandi) 

Rangkaian upacara widhi widhana /majaya-jaya ini diawali dengan puja yang dilakukan oleh sang pemuput upacara (Pandita/Pinandita). Setelah sang pemuput upacara selesai mapuja dilanjut- kan dengan persembahyangan yang dilakukan oleh kedua pengantin. Sebelum melakukan persembahyangan kedua pengantin diperciki tirta panglukatan dan dilanjutkan  tirta prayascita.

Persembahyangan diawali dengan puja trisandya, kemudian dilanjutkan dengan panca sembah. Selesai sembahyang kedua pengantin diperciki tirtha pekuluh dari pemerajan atau pura-pura, dan dilanjutkan dengan memasang bija. Kemudian natab banten sesayut (sesayut nganten).  Selesai natab banten sesayut, kedua pengantin diberikan tetebus (benang) dan dipasangkan karawista dan bija. Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan sumpah perkawinan oleh kedua mempelai dan  penandatanganan surat-surat nikah oleh kedua mempelai dan saksi-saksi.Acara selanjutnya Nasehat Perkawinan : Oleh Ketua Adat,  PHDI dan Keluarga kedua Mempelai.
Setelah semua berkas pernikahan ditanda
Tangani,  dimohonkan kepada semua hadirin untuk mengucapkan doa Syukur bahwa pernikahan telah berlangsung secara lancer dan sah. Sumpah dan Doa Syukur perkawinan dengan cara ngerorod sama dengan sumpah dan doa yang diucapkan dalam perkawinan dengan cara Memadik/Meminang. Yang membedakan adalah  tidak ada doa mengungkap lawang/Doa restu dari pihak mempelai wanita.  . 

f.       Majauman

Majauman merupakan rangkaian terakhir upacara perkawinan umat Hindu etnis Bali. Majauman merupakan kunjungan resmi yang bersifat religius dari pihak pengantin pria ke rumah pengantin wanita yang dilakukan setelah upacara pernikahan selesai.

Majauman berasal dari kata ”jaum” di mana fungsi jaum atau jarum adalah untuk merajut atau menyatukan kembali, maka makna majauman dalam rangkaian upacara perkawinan adalah untuk menyatukan kembali dua buah keluarga yang bersitegang (biasanya karena salah satu pihak keluarga tidak merestui karena perbedaan soroh/wangsa/ kasta, sehingga diambil cara pernikahan ngerorod/ merangkat.  

Majauman biasa-nya dilakukan apabila kedua penganten ngarorod/ merangkat. Arti mejauman adalah menyatukan kembali dua buah keluarga yang tadinya retak atau marah akibat anak gadisnya dilarikan oleh calon pengantin pria. 

Majauman juga berarti memberitahukan kehadapan Hyang Guru dan para leluhur dipihak penganten wanita karena sebelum nya  tidak sempat pamit, bahwa kedua pengantin telah menyatu dalam sebuah upacara perkawinan, serta mohon doa restu agar selalu melindungi perkawinan atau rumah tangga kedua pengantin, sehingga selalu dalam keadaan harmonis.

CATATAN PINGGIR

Kebiasaan pernikahan selama ini di Bali seluruhnya dilakukan di rumah mempelai Pria, karena pernikahannya dilakukan secara Ngerorod/Merangkat. Sehingga pihak mempelai wanita sangat pasif.

Di era yang makin maju, dimana per-nikahan antara kedua mempelai sudah mendapat restu kedua orang tua, sebaik-nya pernikahan dilakukan dengan cara meminang/memadik.

Tradisi merangkat/ ngerorod dijaman dahulu dilakukan untuk mensiasati kakunya sistem soroh/wangsa atau kasta. Pernikahan dengan system Ngerorod/ Merangkat sangat merugikan pihak wanita, Karena hak-hak keperdata-annya (perlindungan hukumnya sangat lemah).

Di jaman kini dimana pemahaman umat terhadap kitab Weda sudah semakin baik, dimana  hak-hak wanita makin dihargai. Sebaiknya smara Stava dan administrasi nikah/Surat-surat Nikah nya dilakukan saat mempelai wanita mau diboyong ke rumah mempelai pria,  dengan catatan :  banten untuk  biyakaondan rayascita dibawa oleh pihak mempelai Pria.

Smara Stava dan Administrasi Nikah di-selesaikan dirumah mempelai Wanita, supaya mempelai wanita  mempunyai kepastian  hukum . Dalam hal ini acara ngungkab lawang diutamakan sehingga pada saat mempelai wanita meninggalkan rumah orang tuanya, secara niskala dan sekala sudah dalam keadaan bersih dan secara hukum keperdataan/hukum negara juga sudah terjamin. Dan sekaligus merupakan bentuk penghormatan pihak mempelai pria kepada pihak mempelai wanita dan keluarga besarnya.

Dalam buku ini, sengaja penulis sertakan doa/kidung/syair-syair pada setiap tahap pernikahan, karena selama ini biasanya pihak kedua mempelai bersikap pasip, semua doa mantranya sudah diwakilkan kepada pemuput nikah/ Jero Mangku.

Buku ini sebagai usulan dalam tatacara pernikahan Hindu Etnis Bali. Buku ini memadukan  antara tradisi kitab Weda dan kebiasaan turun temurun. Dalam buku ini, kedua  mempelai dan orang tua mempelai ikut aktif membaca doa-doa/ kidung/ syair sesuai tahapan pernikahan.

Dapat  pula meminta bantuan Jro Dalang yang khusus ditunjuk  ( semacam MC ) sebagai pranata adicara, untuk memandu dan melantunkan doa-doa/kidung/syair sesuai dengan  urut-urutan upacara. Tugas Jero dalang adalah sebagai master of ceremony, sedangkan jero mangku/pinandita menghantarkan doa/puja bebantenan.

Kidung-kidung yang dilantunkan disesuai kan dengan  urut-urutan upacara. Kidung bisa diambil dari kekawin Ramayana saat Sri Rama meminang Dewi Sita, atau ke-kawin Arjuna wiwaha  yang mengisahkan pernikahan  Arjuna dengan bidadari dewi Supraba atau  Kekawin Hariwangsa/ kekawin krsnayana yaitu pernikanan Sri Krsna dengan Dewi Rukmini yang saling mencintai tetapi tidak direstui oleh ayah mempelai wanita sehingga ditempuh cara kawin Ngerorod /  Merangkat/kawin lari.

Dalam pernikahan model Krsnawiwaha, Sri Kresna meminta  Dewi Rukmini sebagai kusir kereta, ini dimaksudkan bahwah mempelai wanita  (Rukmini) bukan dilarikan oleh mempelai pria (Sri Krsna) tetapi Rukmini melarikan Sri Krsna. Peristiwa ini merupakan  isyarat Sri Krsna kepada setiap keluarga  bahwa isterilah yang  mengatur/ menjalankan manajemen keluarga (Kusir),.dan suami sekuat tenaga dan pikiran memuluskan jalan dengan bekerja keras mencari artha.

Tatacara upacaranya  di tunjukkan saat melakukan Saptapadi / saat mengelilingi sangah surya/Api suci,  mempelai wanita berada didepan mempelai pria. yaitu selama 7 putaran mengelilingi Api suci/ Sanggah Surya mempelai wanita me mimpin dengan berada didepan, atau bisa juga 4 putaran wanita mempimpin dan 3 putaran pria yang memimpin atau sebaliknya.

Doa-doa/syair-syair weda yang penulis cantumkan ada yang memakai bahasa Indonesia saja tanpa mencantukan bahasa sansekerta, karena penulis masih mencari bahasa aslinya (Sansekerta). Apabila  pembaca  menemukan bahasa sansekerta-nya bisa ditambahkan dalam lampiran. Atau dikirimkan ke penulis. Dan juga kritik dan sarannya, sehingga dalam penerbitan yang akan datang dapat  disempurnakan.

Peralatan Mekala-kalaan dan symbol upacara adat perkawinan Bali

·         Sanggah Surya/bambu melekung merupakan niyasa (simbol) istana Sang Hyang Widhi Wasa, ini merupa-kan istananya Dewa Surya. Sebagai saksi utama pernikahan.  Di sebelah kanan  digantungkan biyu lalung simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya sebagai dewa kebajikan,ketampanan,kebijaksanaan, simbol pengantin pria,  di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertiSang Hyang Widhi  ( Hyang Semara Ratih)  dewi kecantikan serta kebijak- sanaan simbol pengantin wanita.
·         Kelabang Kala Nareswari ( Kala -Badeg) simbol calon pengantin yang diletakkan  sebagai alas upacara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.
·         Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikar yang diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikar adalah  sebagai simbol kekuatan Prakerti ( yoni).
·         Keris sebagai kekuatan  Purusa/ lingga. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang pengantin pria.
·         Benang Putih sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari. Dengan  mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkat kan alam kehidupan Brahmacari Asrama menuju Grhasta Asrama.
·         Tegen – tegenan,  merupakan simbol dari  tanggung jawab sekala-niskala. Adapun Perangkat tegen-tegenan ini :
1.      Batang tebu : Kehidupan dijalani secara bertahap seperti tebu,  ruas demi ruas, secara manis.
  1. Cangkul :  simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma.
  2. Periuk simbol windhu.
  3. Buah kelapa simbol Brahman                      
  4. Seekor yuyu/kepiting simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.
·         Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing oleh mempelai wanita yang berisi:  talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih dari suami, dan diharapkan seperti pohon kunir dan talas yang  berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.
·         Dagang-dagangan melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut.
·         Sapu lidi (3 lebih). Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rnaberdasarkan ucapan, prilaku dan pikiran yang baik. Disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
·         Sambuk Kupakan (serabut kelapa). Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dariTriguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol Tri Murtimengisyaratkan kesucian. Telor bebek simbol manik. Kedua Mempelai saling tendang serabut kelapa sebanyak tiga kali, setelah itu serabut tsb. diduduki oleh pengantin wanita. Ini mengandung pengertian Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, dan  selalu ingat dengan penyucian diril Selesai upacara, serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.
·         Tetimpug adalah bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dariSang Hyang Brahma
èMatur suksmeç


Sebagai bahan perbandingan, berikut di sertakan urut-urutan gending Jawa dalam Resepsi pernikahan adat Jawa 

1. Pengantin pria datang ke upacara pewiwahan diiringi gending Ladrang, yaitu  "Ladrang Wilujeng" atau Ladrang Rajamanggala

2. Pengantin putri masuk ke upacara pawiwahan. Iringan gending yang digunakan adalah Ketawang Puspawarna atau Ketawang Sekartejo.

3. Setelah pengantin pria sampai di depan pintu masuk yang telah ditentukan, pengantin pria berhenti. Selanjutnya pengantin putri  berjalan menjemput pengantin pria sambil saling lempar sebuntel daun sirih, dengan di bimbing dukun nganten diiringi dengan gending "Kodok Ngorek" . Setelah nginjak telur dan membasuh kaki kedua mempelai
berjalan masuk menuju kursi mempelai diiringi gending Ketawang Laras Mayahingga duduk di kursi pengantin. Antara gending Kodok ngorek ini biasanya langsung dilanjutkan gending Ketawang Laras Maya.

4. Setelah mempelai duduk di kursi pelaminan, diadakan upacara adat Jawa. Antara lain Dahar Klimah atau Dulang-dulangan, Titik Pitik, Ngabekten atau Sungkeman. Pada acara ini biasanya diiringi gending Ladrang Sriwidodo,
Jika seluruh rangaian upacara adat jawa tersebut  dilaksanakan,  membutuhkan waktu sekitar 4 jam

KIDUNG PENGIRING PEWIWAHAN

Kawitan Tantri - Pendahuluan.

1.      Wuwusan Bhupati. Ring Patali nagantun. Subaga wirya siniwi. Kajrihin sang para ratu. Salwaning jambu warsadi. Prasama hatur kembang tahon.

2.      Tuhu tan keneng api. Pratapa sang prabu Kesyani ruktyeng sadnyari.
Sawyakti Hyang Hari Wisnu. Nitya ngde ulaping ari. Sri dhara patra sang katong.

3.      Wetning raja wibawa, mas manik penuh. Makinda yutan ring bahudanda. Sri Narendra, Sri Singapati, Ujaring Empu Bhagawanta. Ridenira panca-nana.
Bratang penacasyan. Hatur Hyang Dharma nurageng bhuh.

4.      Kadi kreta yuga swapurneng nagantun Kakwehan sang yati.
Sampun saman jayendrya. Weda Tatwa wit.Katinen de Sri Narendra.
Nityasa ngruci tutur. Tan kasareng. wiku apunggung wyara brantadnya ajugul.
Demung Sawit (bawak, dawa)

1.      Tuhu atut bhiseka Nrapati. Sri Eswaryadala.  Dala kusuma patra nglung, Eswarya raja laksmi.  Sang kulahamenuhi rajya. Kwening bala diwarga. Mukya sira.  Kryana patih Sangniti Bandeswarya patrarum.

2.      Nityasa angulih- ulih amrih sutrepting nagara, lan sang paradimantriya. Tuhu widagda ngelus bhumi.  Susandi tinut rasaning aji, Kutara manawa.  Mwang sastra sarodrsti.  Matangyan tan hanang baya kewuh.

3.      Pirang warsa Sri Nrapati Swaryadala.  Tusta ngering sana. Kaladiwara hayu. Sri narapati.  Lagya gugulingan ring taman.  Ring yaca ngurddha angung-gul. Yayamireng tawang.  Tinum pyata tinukir.  Kamala kinanda-kada. Langu inipacareng santun.

4.      Mangamyat kalangenikang nagara.
Tisoba awiyar. Indra bhuwana nurun, Kweh tang pakwana titip.  Pada kabhi nawa. Dening sarwendah linuhung. Liwar sukanikang wong. Anamtami kapti.  Arumpuka sari sama angrangsuk bhusana aneka marum.

Daftar Pustaka :
  •       http://dharmagupta.blogspot.co.id/2013/11/tata-cara-perkawinan-hindu-etnis-bali.html
Nama Kelompok :
  •     Widayanti
  •     Nurul Fazri
  •     Komang Tri Dharma Putra

Senin, 21 Maret 2016

Kepunahan budaya indonesia

Kepunahan Budaya Indonesia

1. latar belakang
Negara Indonesia ini kaya akan alam, bermacam-macam suku,bahasa daerah,dan banyaknya budaya. Kali ini saya ini  membahas tentang budaya-budaya Indonesia yang dikenal dunia tapi di negeri sendiri malah sedikit yang melestarikannya. Sebut saja kesenian budaya seperti Ludruk,Lenong,Reog,Wayang, Mamanda, Rudat,Tarling, tari Jaipong, alat musik seperti Kecapi, Gamelan, Angklung,Sasando,Talindo,Babun,Alosu,Atowo,kegiatan menenun, membatik dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sayangnya para generasi penerus lebih menyukai berbagai macam kebudayaan luar negeri dibandingkan dengan  negeri sendiri.Ini dikarenakan faktor perkembangan teknologi yang semakin pesat serta peran media elektronik yang semakin menghilangkannya unsur budaya lokal sehingga para generasi penurus menghabiskan waktu menikmati budaya luar lewat TV, Internet dll.Tentu efeknya akan berkembang pada pola kehidupan sehari-hari,karena gaya hidup remaja lebih rentan dan lebih mudah terhadap hal-hal yang dianggapnya sebagai hal baru. Mereka enggan dan malu melestarikan budaya sendiri dibandingkan menikmati budaya lain.
Ini terbukti semakin kurangnya peminat budaya sendiri oleh para generasi penerus. Mencintai budaya dari negeri lain boleh saja asalkan tidak melupakan budaya negeri sendiri.Dan inilah parahnya,para remaja lebih berantusias menerima serta menikmati budaya luar yang seharusnya menjadi minioritas dan budaya Indonesia yang seharusnya menjadi mayoritas, kini terbalik begitu saja.Sekarang budaya luar yang lebih menjamur di budaya kita.Jika ini dibiarkan, tentu saja kita akan kehilangan budaya yang kita miliki dan akan punah ditelan budaya luar yang menjamur ke negeri ini.
Sebagai bangsa yang kaya akan budaya, kita patut bersyukur karena bangsa lain belum tentu memiliki kekayaan budaya seperti kita. Walaupun begitu,kita tidak lantas hanya mengapresiasikannya saja. Kita sebagai penerus bangsa juga harus ikut berperan dalam melestarikan kelangsungan budaya yang diberikan dari nenek moyang dan para leluhur kita agar tidak hilang dan punah akibat masuknya budaya bangsa lain yang sekarang lebih mendominasi bangsa kita.Budaya kita seharusnya menjadi penguasa di negeri sendiri,oleh karena itu mari kita bergerak melestarikan budaya kita agar tetap terjaga selamanya.

2. Teori
Pernahkah Anda mendengar istilah kepunahan atau kematian bahasa? Istilah ini saya rasa sangat familiar bagi mahasiswa atau orang-orang yang berkecimpung dalam dunia bahasa. Disadari atau tidak peritiwa kebahasaan yang dinamakan dengan kepunahan bahasa ini lambat laun dapat terjadi pada suatu bahasa. Di saat orang tak lagi menggunakan suatu bahasa, tentu bahsa yang pada mulanya ada akan menjadi punah atau tidak ada karena ketiadaan penuturnya. Bahkan dimungkinkan pula bahwa penutur asli dari suatu bahsa lebih memilih untuk menggunakan bahsa lain karena dirasa lebih strategis dan ditambah pula mereka tidak mahir atau menguasai bahasa asli mereka. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini adalah geerasi muda (missal: di dareh Jawa) tidak fasih dan menguasai apa yang disebut dengan bahasa krama, karena keterdesakan oleh bahasa lain yang lebih banyak mereka gunakan dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Mereka bahkan lebih fasih berbicara dengan bahasa Inggris daripada berbicara dengan menggunakan bahass krama. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya fenomena tersebut, misalnya mereka menggap bahasa Jawa (bahasa asli daerah) mereka kurang gaul bila dibandingkan dengan bahasa Inggris, dan sebagainya.
Lalu apakah yang dimaksud dengan peristiwa kepunahan bahasa ini? Sudahkah Anda memiliki pemahaman yang cukup untuk menyikapi jika sewaktu-waktu bahasa asli Anda akan hilang terkikis oleh zaman?
Bagaimanakah sebuah bahasa dikatakan punah? Apakah ketika sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi di seluruh dunia disebut sebagai bahasa yang telah punah? Berkaitan dengan hal ini, pendapat yang dikemukakan oleh Dorian ( di dalam Sumarsono dan Partana, 2002: 284) mengungkapkan jika kepunahan bahasa hanya dapat dipakai bagi pergeseran total di dalam satu guyup atau komunitas saja dan pergeseran itu terjadi dari satu bahasa ke bahasa yang lain, bukan dari ragam bahasa yang satu ke ragam bahasa yang lain dalam satu bahasa. Artinya, bahasa yang punah tidak tahan terhadap persaingan bahasa yang lain bukan karena persaingan prestise antarragam bahasa dalam satu bahasa. Berdasarkan penjelasan Dorian ini, dapat disimpulkan bahwa kepunahan bermakna terjadinya pergeseran total dari satu bahasa ke bahasa yang lain dalam satu guyup atau kominitas tutur. Akan tetapi, pada akhirnya para ahli bahasa ini menyimpulkan jika kepunahan bahasa ini bisa mencakup pengertian yang luas dan terbatas.
Selanjutnya, Kloss (di dalam Sumarsono dan Partana, 2002:286) menyebutkan bahwa ada tiga tipe utama kepunahan bahasa, yaitu (1) kepunahan bahasa tanpa terjadinya pergeseran bahasa; (2) kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa (guyub tutur tidak berada dalam wilayah tutur yang kompak atau bahasa itu menyerah pada pertentangan intrinsik prasarana budaya modern yang berdasarkan teknologi; dan (3) kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis (misalnya suatu bahasa tutur derajatnya menjadi dialek ketika masyarakat tidak lagi menulis dalam bahasa itu dan mulai memakai bahasa lain. Salah satu contoh bahasa yang mengalami kepunahan karena pergeseran (terjadi pada abad ke-19) yakni bahasa Gaeltacht di Irlandia. Masyarakat Irlandia lebih memilih untuk meninggalkan bahasanya dan menggantinya dengan bahasa Inggris. Menurut beberapa ahli, faktor-faktor yang menyebabkan kepunahan bahasa Gaeltacht tersebut, antara lain1)rapuhnya upaya untuk melindungi dan mempertahankan Gaeltacht; 2) tidak mempunyai guyub tutur yang terpusat di perkotaan; 3) terjadinya modernisasi; 4) adanya kehendak aktif dari masyrakat untuk bergeser; 5) tidak cukupnya konsentrasi masyarakat untuk menghadapi lingkungan yang kuat secara ekonomi dan canggih teknologinya; 6) tidak adanya pengalihan (tansmisi) bahasa asli dari orang tua kepada anak-anaknya; 7) tidak adanya optimisme akan masa depan bahasa.
Kepunahan bahasa dapat pula dialami oleh bahasa Indonesia apabila masyarakat dan pemerintah tidak bersikap tegas dan selektif terhadap berbagai budaya (bahasa) yang masuk ke Indonesia. Menurut Halim (melalui Muslih, 2010: 20) setelah bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa persatuan, situasi kebahasaan ditandai oleh dua tantangan. Tantangan pertama, yakni perkembangan bahasa Indonesia yang dinamis, tetapi tidak menimbulkan pertentangan di antara masyarakat. Tantangan kedua, yakni persoalan tata istilah dan ungkapan ilmiah. Tantangan kedua ini yang menimbulkan prasangka yang tetap dihadapi ilmuan kita yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia miskin, bahkan kita dituduh belum mampu menyediakan sepenuhnya padanan istilah yang terdapat banyak dalam disiplin ilmu, teknologi dan seni. Menurut Moeliono prasangka itu bertumpu pada apa yang dikenal dan atau diketahui, tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah sekaligus menangani ancaman kepunahan bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia, antara lain 1) vitalisasi etnolinguistik; 2) menggiatkan penerbitan majalah berbahasa daerah bagi media cetak dan menyediakan program khusus berbahasa daerah; 3) memasukkan sebagian kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa nasional; 4) menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib di berbagai jenjang pendidikan; 5) membentuk jurusan atau jika memungkinkan fakultas di perguruan tinggi yang khusus membidangi bahasa daerah.
Penyebab Kepunahan Bahasa
            UNESCO mengatakan: When a language dies, the world loses valuable cultural heritage - a great deal of the legends, poems and the knowledge gathered by generations is simply lost. Ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga – sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah.
            Grimes (dalam Ibrahim 2008, 10) mengatakan sebab utama kepunahan bahasa-bahasa adalah karena para orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi. Sebagai contoh adalah orangtua keturunan Sumatra yang kita sebut saja memakai bahasa A. Karena pergeseran penggunaan bahasa A, orang tua tersebut mendidik anak-anaknya untuk memakai bahasa Indonesia dalam keluarganya. Didikan seperti itu sangat dianjurkan. Namun, bahasa daerah kita sendiri jangan ditinggalkan, budaya berbahasa kita sendiri juga harus mengerti dan fasih. Gerak ke arah kepunahan akan menjadi lebih cepat apabila disertai dengan semakin berkurangnya cakupan dan jumlah ranah penggunaan bahasa dalam ranah sehari-hari; atau semakin meluasnya ketiadaan pengunaan bahasa dalam sejumlah ranah, terutama ranah keluarga.
Sedangkan Landweer (dalam Ibrahim, 2008: 11) mengemukakan sebab lain punahnya suatu bahasa bukan karena penuturnya berhenti bertutur, melainkan akibat dari pilihan penggunaan bahasa  sebagian besar masyarakat tuturnya. Seringkali terjadi diskrimitatif, bahwa orang yang berbahasa daerah adalah orang-orang kampungan. Karena itu, orang lebih memilih untuk tidak memakai bahasa daerah. Hal ini terkait dengan sikap dan pemertahanan bahasa masyarakat tuturnya. Jika orang tua tidak memilih untuk memakai bahasa daerah di samping bahasa Indonesia kepada keturunananya, maka pergerakan bahasa ke arah kepunahan akan semakin cepat.
Di luar soal pemertahanan bahasa terdapat berbagai hal penting yang mendorong percepatan kepunahan suatu bahasa. Hal tersebut adalah bahasa daerah yang jumlah penuturnya sedikit cenderung merupakan bahasa yang tidak memiliki tulisan. Dengan demikian, tradisi lisan yang berkembang, jika tidak segera didokumentasikan, akan sangat sulit mempertahankan eksistensinya. Ditambah lagi, adanya tuntutan bahasa daerah untuk bersaing dengan bahasa Indonesia yang berstatus bahasa nasional.
Selain itu, terdapat faktor-faktor yang turut mempercepat kepunahan suatu bahasa. Summer Institute of linguistics (SIL) mengemukakan setidaknya terdapat 12 faktor:
(1) kecilnya jumlah penutur
(2) usia penutur
(3) digunakan-atau-tidak digunakannya bahasa ibu oleh anak-anak
(4) pengunaan bahasa lain secara reguler dalam latar budaya yang beragam
(5) perasaan identitas etnik dan sikap terhadap bahasanya secara umum
(6) urbanisasi kaum muda
(7) kebijakan pemerintah
(8) penggunaan bahasa dalam pendidikan
(9) intrusi dan eksploitasi ekonomi
(10) keberaksaraan
(11) kebersastraan
(12) kedinamisan para penutur membaca dan menulis sastra. Selain itu, ada pula tekanan bahasa dominan dalam suatu wilayah masyarakat multibahasa secara berdampingan (Ibrahim 2008:10).
 Dua belas faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap upaya pencegahan punahnya suatu bahasa. Dengan melihat pada faktor-faktor yang mempercepat kepunahan bahasa sehingga kita dapat mempelajari dan melakukan usaha agar kepunahan bahasa dapat dicegah.

Penyebab Budaya Tradisional Hilang
Budaya nasional yang seharusnya menjadi kebanggaan dan harusnya di pertahankan sekarang mulai hilang dikarenakan masuknya budaya asing (modern). Kita sebagai warga negara indonesia yang mempunyai hak penuh atas kebudayaan tersebut seharusnya melestarikannya bukan malah mengesampingkannya dengan berbagai alasan seperti  takut dibilang ketinggalan jaman, takut dibilang kupper, katrok, dan lain sebagainya.
Jika ditinjau melalui aspek global, globalisasi menjadi tantangan untuk semua aspek kehidupan juga yang terkait dengan kebudayaan. Budaya tradisional yang mencerminkan etos kerja yang kurang baik tidak akan mampu bertahan dalam era global. Era global menuntut kesiapan kita untuk siap berubah menyesuaikan perubahan zaman dan mampu mengambil setiap kesempatan. Budaya tradisional di Indonesia sebenarnya lebih kreatif dan tidak bersifat meniru, yang menjadi masalah adalah mempertahankan jati diri bangsa. Sebagai contoh sederhana, budaya gotong royong di Indonesia saat ini hampir terkikis habis, individual dan tidak mau tahu dengan orang lain adalah cerminan yang tampak saat ini. Perlu dipikirkan agar kebudayaan kita tetap dapat mencerminkan kepribadian \bangsa. Kebudayaan tradisional adalah sebuah warisan luhur.
Dalam era globalisasi, kebudayaan tradisional mulai mengalami erosi. Orang, anak muda utamanya lebih senang menghabiskan waktunya untuk mengakses internet dari pada mempelajari tarian dari kebudayaan sendiri. Orang akan merasa bangga ketika dapat menuru gaya berpakaian orang barat dan menganggap budayanya kuno dan ketinggalan. Globalisasi akan selalu memberikan perubahan, kita lah yang harus meneliti apakah budaya-budaya tersebut bersifat positif ataupun negatife.

Cara-cara Untuk Menjaga Kelestarian Budaya Tradisional
Budaya yang dahulu tak ternilai harganya, kini justru menjadi budaya yang tak bernilai di mata masyarakat. Sikap yang tak menghargai itu memberikan dampak yang cukup buruk bagi perkembangan budaya tradisional di negara kita. Mengapa? Karena salah satu cara untuk melestarikan budaya trsdisional adalah sikap dan perilaku dari masyarakatnya sendiri. Jika dalam diri setiap masyarakat terdapat jiwa nasionalis yang dominan, melestarikan budaya tradisional merupakan suatu kebanggaan, tapi generasi muda sekarang ini justru beranggapan yang sebaliknya, sehingga mereka menggagap melestarikan budaya itu suatu paksaan. Jadi kelestarian buadaya tradisional itu juga sangat bergantung pada jiwa nasionais generasi mudanya.
Sebagai para generasi muda penerus bangsa, jiwa dan sikap nasionalis sangatlah diperlukan. Bukan hanya untuk kepentingan politik saja kita dituntut untuk berjiwa nasionalis, tetapi dalam mempertahankan dan melestarikan budayapun juga demikian. Kita butuh untuk menyadari bahwa untuk mempertahankan budaya peninggalan sejarah itu tidak mudah. Butuh pengorbanan yang besar pula. Oleh karenanya tak cukup apabila hanya ada satu generasi muda yang mau untuk tapi yang lain masa bodoh. Dalam melakukannya dibutuhkan kebersamaan untuk saling mendukung dan mengisi satu sama lain. Dalam kata lain dalam menjaga kelestarian budaya juga diperlukan kekompakan untuk saling mengisi dan mendukung.

3. Kesimpulan
Fakta kepunahan bahasa cukup mencengangkan, Mengingat banyaknya jumlah bahasa yang terancam punah serta jumlah penutur bahasa daerah yang sangat sedikit. Kepunahan bahasa-bahasa daerah di Indonesia disebabkan oleh bahasa daerah yang jumlah penuturnya sedikit cenderung tidak memiliki tulisan dan berkurangnya pengunaan bahasa dalam sejumlah ranah. Selain itu, adanya tuntutan bahasa daerah untuk bersaing dengan bahasa Indonesia yang berstatus bahasa nasional.
Untuk mencegahan kepunahan bahasa tidak hanya sekedar membuat kurikulum mata pelajaran di sekolah atau menuliskannya di papan nama jalan raya, melainkan dengan tindakan yang lebih kongkret yaitu dengan menjadikannya sebagai bahasa tutur aktif.

4. Daftar Pustaka
·        Sarjono. Agus R (Editor). 1999. Pembebasan Budaya-Budaya Kita. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
·        Kamal Pasha, Musthafa, dkk. 2000. Ilmu Budaya Dasar. Yogyakarta : Cipta Karsa Mandiri.
·        Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya Indonesia (suatu pengantar). Ghalia Indonesia: Bogor.
·        Sumarsono & Partana, P.. 2004. Sosiolinguitik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
·        Muhamad Kadir SH,ilmu budaya dasar;Fajar Agung,Jakarta 1990
·        Mustopo,M.Habib;Manusia dan kebudayaan;UsahaNasional-Surabaya,1990